Pengendalian Hama pada Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Menggunakan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.)

Tanaman sawi (Brassica juncea) merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan di Kalimantan Barat. Serangan berat organisme pengganggu pada tanaman menyebabkan daun rusak atau habis termakan sehingga dapat menurunkan produksi sampai mematikan tanaman. Hama ulat pemakan daun Spodoptera sp. dan Plutella sp. paling banyak menyerang tanaman sayur-sayuran dan menyebabkan kerusakan sekitar 12,5 % (Sriniastuti, 2005).

Pengendalian ulat pemakan daun oleh petani masih tergantung pada penggunaan insektisida sintetik yang diyakini praktis dalam aplikasi dan hasil pengendalian jelas terlihat. Namun, petani cenderung menggunakan insektisida dengan takaran yang berlebihan, sehingga penggunaan insektisida perlu dikelola dan dikendalikan secara efektif dan aman bagi lingkungan (Haryanto, 2003).

Salah satu cara pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah dengan menggunakan insektisida nabati. Beberapa jenis insektisida nabati yang berasal dari tumbuhan telah dikembangkan untuk mengendalikan hama ulat pemakan daun yaitu tanaman mimba  (Azadirachta indica) dan tanaman cengkeh. Kedua tanaman tersebut  mengandung beberapa senyawa bioaktif yang efektif dalam mengendalikan nematoda, jamur patogen, bakteri, dan serangga hama (Wiratno, 2010).

Tanaman pepaya (Carica papaya) berpotensi sebagai insektisida nabati. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Konno (2004), getah pepaya mengandung kelompok enzim sistein protease seperti papain dan kimopapain. Getah pepaya juga menghasilkan senyawa – senyawa golongan alkaloid, terpenoid, flavonoid dan asam amino nonprotein yang sangat beracun bagi serangga pemakan tumbuhan. Adanya kandungan    senyawa – senyawa kimia di dalam tanaman pepaya yang terkandung dapat mematikan organisme pengganggu.

      Ekstrak daun pepaya (Carica papaya) merupakan salah satu bahan alami yang dapat dijadikan insektisida yang efektif dan aman bagi lingkungan. Berdasarkan uraian tersebut, maka tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui konsentrasi ekstrak daun pepaya (Carica papaya) yang efektif sebagai pengendali hama pada tanaman sawi (Brassica. juncea) dan  pengaruh intensitas serangan hama terhadap pertumbuhan sawi (Brassica juncea ).

Hama yang ditemukan pada tanaman sawi selama penelitian adalah ulat krop  (Crocidolomia binotalis)   (Gambar 1). 

Gambar 1. Larva Ulat Krop (Crocidolomia binotalis)

Beberapa tahap pada siklus hidup C. binotalis meliputi larva instar I, larva instar II, larva instar III dan larva instar IV.

sawi

Gambar 2. Tahapan perkembangan Crocidolomia binotalis (a)

Minggu ke-1 Larva Instar I (b) Minggu ke-

2 Larva Instar II (c) Minggu ke-3 dan ke-4

Larva Instar II

Kerusakan yang terjadi pada tanaman sawi oleh ulat krop (Crocidolomia binotalis) terjadi pada minggu ke – 1 sampai minggu ke – 4 pengamatan. Minggu ke-1 serangan ulat krop terliat berupa bercak kotoran pada daun (Gambar 3a). Minggu ke-2 ulat mulai menyerang titik tumbuh tanaman (Gambar 3b). Minggu ke-3 dan ke-4 ulat krop memakan habis tanaman (Gambar 3c)

Ulat minngu ke 1
ulat minggu ke 2
ulat minggu ke 3

Ulat krop (Crocidolomia binotalis) yang menyerang tanaman sawi memiliki ciri kepala berwarna hitam, tubuh berwarna hijau muda, pada bagian punggung (vertebrae) terdapat 3 baris yang berwarna putih kekuning-kuningan dan bagian perut (abdomen) berwarna kuning (Gambar 1). Ulat krop yang baru menetas berwarna kelabu, kemudian berubah menjadi hijau muda. Pada punggung terdapat 3 baris putih kekuning-kuningan dan dua garis di samping tubuhnya serta, kepalanya berwarna hitam (Anonim, 2000). Tahap perkembangan ulat krop yang menyerang tanaman sawi selama penelitian adalah larva instar I dan instar .Menurut Pracaya (1993), serangan ulat krop pada tanaman sawi mulai terlihat pada tahap perkembangan larva instar I

Ciri- ciri serangan ulat krop (Crocidolomia binotalis)yang terjadi pada pada larva instar I sampai larva instar IV larva tersebut memakan daun sawi dengan gejala serangan berupa lubang-lubang dan meninggalkan bercak kotoran pada daun, menyerang pucuk tanaman sawi sehingga menghancurkan titik tumbuh dan bergerak ke titik tumbuh memakan semua helaian daun dan hanya menyisakan tulang daun . Larva memakan daun dengan meninggalkan lubang- lubang, bila bagian pucuk yang terserang maka tanaman tidak dapat membentuk krop sama sekali (Pracaya, 1993).

Sumber :

Anonim, 2000, Pedoman Pengendalian Hama Terpadu Holtikultura, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Agromedia Pustaka, Jakarta

Haryanto, E, 2003, Sawi dan Selada, Penebar Swadaya, Jakarta

Konno, K, 2004, ‘Papain Protects Papaya Trees from Hervivorous Insect: Role of Cysteine Proteases in Latek’ Plant Journal Vol. 37 (3) : 37-38

Pracay. 1993, Hama dan Penyakit Tanaman, Penebar Swadaya, Jakarta

Sriniastuti, 2005, Efektifitas Penggunaan Bacillus thuringiensis terhadap Serangan Ulat Daun (Plutella xylostella) pada Tanaman Sawi (Brassica juncea) di Sungai Selamat, Skripsi, Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak.

Wiratno, 2010, Beberapa Formula Pestida Nabati dari Cengkeh, Journal Agritek,  Vol. 13 (1) : 612.

DIREKTORAT KAJIAN

KABINET PANEN RAYA

[HIMAGRON 2020]