CABE JAWA (Piper retrofractum Vahl.)

Hallo mahasiswa/i Agroekoteknologi!!! Udah tau belum nih apa itu cabe Jawa? Rata-rata dari kita, ketika mendengar kata cabe berpikiran langsung bahwa cabe adalah rempah yang memiliki cita rasa pedas untuk makanan. Eh tunggu dulu, cabe yang satu ini beda loh, mau tau apa bedanya? Yuk baca sampai tuntas.

Cabe jawa merupakan tanaman asli Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tanaman cabe jawa dikenal mempunyai daya adaptasi yang tinggi, yaitu dapat ditanam pada tanah dengan rentang pH asam sampai basa, tanah yang kurang subur, berbatu, dan iklim yang kering

Cabe jawa atau cabe jamu (Piper retrofractum Vahl.) merupakan tanaman penghasil rempah dan fitofarmaka yang penting baik ditinjau dari pemenuhan kebutuhan bumbu dan obat tradisional bagi masyarakat maupun bagi industri makanan, minuman, jamu, dan obat. Cabe jawa dapat diperbanyak menggunakan biji, stek cabang panjat, stek cabang tanah, dan stek cabang buah.

Seperti cabe pada umumnya, cabe jawa digunakan sebagai bumbu pada beberapa masakah. Nah yang membedakan, cabe jawa ini bisa juga sebagai bahan campuran minuman seperti wedang secang, bir pletok, bandrek, bajigur, wedang jahe, dan kopi jamu.

Sebagai obat tradisional, buah cabe jawa digunakan sebagai stimulan, karminatif, tonik, dan perawatan ibu melahirkan juga untuk mengobati asma, kejang perut, dan masih banyak lagi.

Kandungan buah cabe jawa diantaranya alkaloid piperin, kavisin, piperidin, isobutildeka-trans-2-trans4-dienamida; saponin, polifenol, minyak atsiri, asam palmitat, asam tetrahidropiperat, 1 undesilenil-3,4- metilendioksibenzena, dan sesamin.

Efek farmakologi yang dimiliki buah cabe jawa antara lain aktivitas antioksidan dan potensial untuk mengobati malaria, antimikroba, antibakteri, aktivitas depresan syaraf pusat, antikanker, antidiabetes serta merangsang perkembangan dan aktivitas organ-organ reproduksi laki-laki (efek androgenik).

Uji klinik pengaruh ekstrak cabe jawa terhadap efek androgenik pada manusia telah dilakukan. ekstrak buah cabe jawa pada dosis 100 mg/hari dapat bersifat/bertindak sebagai fitofarmaka androgenik, yakni dapat meningkatkan kadar hormon testosteron darah dan libido pada pria hipogonad serta bersifat aman. Badan POM RI (2010) memasukkan buah cabe jawa sebagai sumber sediaan afrodisiaka dari obat asli Indonesia.

Sumber : Evizal, Rusdi. 2013. STATUS FITOFARMAKA DAN PERKEMBANGAN AGROTEKNOLOGI CABE JAWA (Piper Retrofractum Vahl.). Jurnal Agrotropika Vol. 18 (1) : 34-40.

Sumber gambar : https://images.app.goo.gl/PMnc53GkoCejSEW8