Amankan Stok Pangan Lewat Gerakan Percepatan Olah Tanah dan Tanam

Provinsi Banten terus giat mewujudkan gerakan Percepatan Olah Tanah dan Tanam (GPOT) yang dirancanang oleh Kementerian Pertanian. Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, Agus M. Tauchid memperhitungkan bahwa kekuatan pangan Banten ditentukan pada masa pertanaman bulan Juni-September.


Menurutnya, jika Banten gagal di tiga bulan ini akan mengancam ketersediaan pangan di bulan yang krusial yakni November, Desember dan Januari. Data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) provinsi Banten menyebutkan kemarau tahun ini kondisi kemarau basah. Dan ini menjadi peluang bagi dinas kabupaten/kota untuk memanfaatkannya dan mendorong Gerakan Percepatan Olah dan Tanam (GPOT).


Beliau mengharapkan para petani di lapangan tidak kehilangan momentum memanfaatkan kondisi kemarau basah. Sebab di berbagai kabupaten yang memiliki banyak air dapat dijadikan sebagai potensi guna dimanfaatkan untuk percepatan olah dan tanam. Sejumlah langkah untuk mendukung GPOT di Banten pun telah disiapkan di antaranya alokasi ketersediaan benih baik dari APBN maupun APBD dan Cadangan Benih Daerah (CBD).


Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi selaku Penanggung jawab Tim Supervisi dan Pendampingan Program Utama Kementan di Provinsi Banten, mengatakan bahwa Provinsi Banten masuk 10 besar penghasil beras di Indonesia.


Oleh karena itu, Banten menjadi andalan dan harapan untuk menjaga buffer stock pangan seluruh tanah air. Sehingga pangan di Banten bukan hanya untuk orang Banten saja, tetapi juga untuk provinsi lain yang belum mencukupi, misalnya yang paling dekat yaitu DKI Jakarta.


Beliau mengatakan bahwa Kementan terus mendorong gerakan percepatan olah dan tanam (GPOT), untuk itu diharapkan proses olah tanah dan tanam agar dipercepat. Jika olah tanah dan tanamnya dipercepat berarti produksinya juga cepat, dengan produksi yang dipercepat berarti ketersediaan pangan juga dipercepat. Itu artinya pangan kita akan aman.


Terkait upaya guna tercapainya GPOT ini, Beliau menjelaskan Kementan sudah menunjuk para pendamping di setiap provinsi dengan tugas penguatan data luas tanam, percepatan tanam khususnya padi dan jagung dan pelaksanaan GPOT. Disamping itu, fokus dari pengawalan sendiri adalah kondisi pertanaman, informasi sumber air, sarana pengairan, sarana olah tanah dan benih, lalu gerakan percepatan olah dan tanam.


Gerakan percepatan olah dan tanam merupakan gerak cepat antisipasi krisis pangan yang digaungkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Gerakan ini digencarkan di berbagai daerah yang menjadi lumbung padi di Indonesia dengan target seluas 5,6 juta hektar.


Oleh karena itu, butuh kebersamaan untuk memastikan pertanian bisa berjalan dengan akselerasi cepat. Jika semua bergerak bersama maka bisa dipastikan kondisi pangan kita aman sampai akhir tahun.

Sumber :
Anto Kurniawan. Https://ekbis.sindonews.com/read/75996/34/amankan-stok-pangan-lewat-gerakan-percepatan-olah-tanah-dan-tanam-1592636787. Diakses pada Sabtu, 20 Juni 2020 Pukul 14.56 WIB.

DIREKTORAT KAJIAN KABINET PANEN RAYA [HIMAGRON 2020]