SERANGAN HAMA PADA PERKEBUNAN TEBU (Saccharum officinarum L.)

Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) adalah anggota familia rumputrumputan (Graminae) yang merupakan tanaman asli tropika basah namun masih dapat tumbuh baik dan berkembang di daerah subtropika, pada berbagai jenis tanah dari daratan rendah hingga ketinggian 1.400 m diatas permukaan laut (dpl) (Epati, 2012). Tebu merupakan jenis tanaman monokotil yang dibudidayakan sebagai tanaman penghasil gula. Tanaman tebu diperbanyak secara vegetatif dalam bentuk bagal, namun pada saat ini berkembang metode pembibitan mata ruas tunggal, dan mata tunas tunggal (Rokhman, Taryono, dan Supriyana, 2014). Indonesia merupakan salah satu negara yang strategis untuk pengembangan komoditas perkebunan tebu (Saccharum officinarum L.) karena Indonesia memiliki iklim tropis yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman tebu (Indrawanto, Purwono, Siswanto, Syakir, dan Rumini, 2010). Data luas lahan tebu di Indonesia dari tahun 2012 hingga 2015 menurut Direktorat Jenderal Perkebunan Indonesia (2014) pada tahun 2012 adalah 451.255 ha, pada tahun 2013 469.095 ha, tahun 2014 sebesar 477.881 ha dan pada tahun 2015 adalah 487.095 ha. Luas perekebunan tebu di Provinsi Jambi 2012-2015 menurut Data Base Potensi Komoditi Industri Agro (2017) pada tahun 2012-2013 adalah seluas 2.665 ha, 2014 seluas 1.623 dan 2015 seluas 1.664 ha


Tebu adalah sumber bahan utama pembuatan gula. Gula merupakan kebutuhan primer yang permintaannya selalu meningkat setiap tahun. Kendala yang masih dihadapi oleh industri gula yaitu produksi gula yang masih rendah jika dibandingkan dengan kebutuhanya (Yukamgo dan Yunowo, 2007).


Produktivitas tebu nasional pada tahun 2017 diperkiraan 5,4 t ha-1 dengan rendemen 7,5% sampai 8 %. Upaya peningkatan produktivitas tanaman tebu juga sering terkendala oleh serangan hama. Hama pada tanaman tebu menyebabkan penurunan produktivitas gula sekitar 10%. Hama penting penggerek tanaman tebu yang menyebabkan kerugian ekonomi tinggi ialah penggerek pucuk, penggerek batang bergaris, penggerek batang berkilat, dan penggerek batang raksasa (Subiyakto, 2016). Untuk memberi informasi tentang hama tanaman tebu di Provinsi Jambi, telah dilakukan penelitian identifkasi jenis hama yang menyerang tanaman tebu.


Seluruh gejala serangan hama yang ditemukan pada tanaman tebu, adalah sama yaitu penggerek batang tebu yang disebabkan penggerek batang Kumbang (Rhabdoscelus obscurus) (termasuk dalam family Curculionidae) dan subfamily Rhynchophorinae (Gambar 2a.). Hama tersebut diindikasikan merupakan hama utama pada tanaman tebu yang pradewasanya dikenal juga dengan hama uret. Hama uret ini dapat merusak bagian dalam batang tanaman tebu hingga menyebabkan kematian (Gambar 2b). Jenis penggerek batang ini berbeda dengan dengan jenis penggerek yang telah telah dilaporkan oleh Subiyakto (2016). Zimmerman (1968) menyebutkan bahwa ada sepuluh spesies Rhynchophorine terpantau di Polynesia Tenggara dan R. Obscurus dinyatakan menyerang tanaman tebu .

a. Rhabdoscelus Obscurushttps://drive.google.com/file/d/1pfve4q6RgF0ctEr8AhBdO7tc5aVnAkHB/view?usp=drivesdk

b. Uret Andong-Andong https://drive.google.com/file/d/1phvUJNsSuyUXcYiJQVTVObwqj9teXkMj/view?usp=drivesdk

Sumber :
Epati R. 2012. , Beberapa Formula Pestida Nabati dari Cengkeh, Journal Agritek, Vol. 13 (1) : 612.

Indrawanto C., Purwono, Siswanto, Syakir M., dan Rumini W. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Tebu. ESKA Media. Jakarta.

Rokhman H., Taryono, dan Supriyana. 2014. Jumlah Anakan dan Rendemen Enam Klon Tebu (Saccharum Officinarum L.) Asal Bibit Bagal, Mata Ruas Tunggal, dan Tunas Tunggal. Junal Vegetalika, 3(3) : 89-96

Subiyakto, 2016. Hama Penggerek Tebu dan Perkembangan Teknik Pengendalianya. Jurnal Pertanian Litbang 35 (4) 179-186. Malang.

Zimmerman E. C, 1968. Rhynchophorinae of Shoutheastern Polysenia. Jurnal 10(1) 47-77. Polysenia

DIREKTORAT KAJIAN
KABINET PANEN RAYA
[HIMAGRON 2020]