UPUK ORGANIK CAIR DARI BATANG POHON PISANG

Pisang merupakan tanaman yang tidak asing lagi di kalangan masyarakat. Pisang (Musa paradisiaca) berasal dari Asia dan tersebar di Spanyol, Itali, Indonesia serta Amerika. Pisang merupakan salah satu buah tropik yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, ketersediaannya tidak mengenal musim dan harganya terjangkau. Tanaman pisang bersifat monokarfik artinya hanya berbuah sekali dan kemudian mati. Tanaman pisang akan berproduksi dengan baik apabila pertumbuhannya juga subur. Pisang umumnya dapat tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian 1.000 m diatas permukaan laut. Pisang dapat tumbuh pada iklim tropis basah, lembab dan panas. Meskipun demikian pisang dapat tumbuh di dataran tinggi sampai ketinggian 1.300 m diatas permukaan laut. Di dataran tinggi umur tanaman sampai berbuah lebih lama dan kulitnya lebih tebal. Seiring meningkatnya pengetahuan dibidang pertanian, batang pohon pisang kini mulai dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair.


Batang pisang memiliki senyawa penting seperti antrakuinon, saponin dan flavanoid. Batang pisang mengandung 80% air. Untuk menghasilkan pupuk, batang pisang ini harus diolah dulu lebih kecil agar proses pengomposan lebih cepat berjalan . Pengomposan terjadi secara alami maupun dengan mikroorganisme. EM4 merupakan bahan biodekomposer yang banyak digunakan dalam proses pembuatan pupuk. Bakteri pengurai ini membantu pembuatan kompos agar lebih cepat, muda, dan berkualitas lebih baik.


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktik pembuatan pupuk organik cair adalah batang pohon pisang, gula pasir, air, tong plastik, gayung, pengaduk, masker, sarung tangan dan EM4. Pertama batang pohon pisang dipotong kecil-kecil dengan ukuran 3-4 cm. Kemudian batang pohon pisang tersebut dimasukkan ke dalam ember. Gula pasir dengan massa 2 kg di campurkan dengan EM4. EM4 merupakan larutan mikro organisme lokal (MOL) yang mengandung unsur hara mikro dan makro serta bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan, dan agens pengendali hama dan penyakit tanaman. Lalu, batang pohon pisang tersebut dimasukkan ke dalam ember yang berisi larutan gula dan EM4. Larutan tersebut di fermentasi kurang lebih selama 14 hari. Akhir fermentasi ditandai dengan timbulnya gas, wadah menggelembung, terdapat tetes-tetes air, tercium bau aroma tape, warna larutan keruh, ada lapisan berwarna putih baik di permukaan larutan maupun dinding wadah fermentasi. Setelah ada tanda-tanda tersebut, maka pupuk siap dipakai dengan cara disaring.


Referensi :
Efelina, V., Purwanti, E., Dampang, S., & Rahmadewi, R. (2018). Sosialisasi Pembuatan Pupuk Organik Cair Dari Batang Pohon Pisang di Desa Mulyajaya Kecamatan Telukjambe Timur Kabupaten Karawang. SENADIMAS.